Ule.co.id – Pangdam XXII TB Tinjau Lokasi Sumur Bor di Pulpis pada Jumat, 18 September 2026, menandai langkah konkret Kodam XXII/Tambun Bungai dalam memperkuat infrastruktur air di wilayah Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Kunjungan yang dipimpin oleh Mayjen TNI Zainul Arifin SAP MSc ini dilaksanakan di Desa Hanjak Maju, Kecamatan Kahayan Hilir, dengan tujuan menilai kesiapan sumur bor yang diharapkan menjadi sumber air cadangan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Lokasi sumur bor dipilih karena letaknya strategis di daerah yang rawan kebakaran dan memiliki potensi air tanah yang cukup. Tim yang dipimpin Pangdam melakukan inspeksi visual, memeriksa peralatan pengeboran, serta menilai kualitas air yang dihasilkan. Hasil awal menunjukkan bahwa sumur bor sudah mencapai kedalaman yang memadai dan pompa instalasi berfungsi dengan baik, meskipun masih diperlukan beberapa penyesuaian teknis untuk memastikan kestabilan pasokan air selama masa darurat.
Rombongan inspeksi terdiri dari jajaran pejabat Kodam XXII/TB, termasuk perwira senior dan tim teknis Mabes TNI. Selain itu, Dandim 1011/Klk serta Wakil Bupati Pulang Pisau, H Ahmad Jayadikarta SIP MAP, turut menyambut kedatangan Pangdam dan memberikan dukungan penuh. Kehadiran pejabat daerah menegaskan sinergi antara militer dan pemerintah setempat dalam upaya mitigasi kebakaran hutan yang semakin kompleks.
Selama kunjungan, Dandim 1011/Klk menyampaikan apresiasi atas perhatian Pangdam terhadap permasalahan air di wilayahnya. Ia menekankan bahwa sumur bor ini tidak hanya akan menjadi sumber air bagi pemadam kebakaran, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan domestik, pertanian, dan irigasi. Dengan demikian, proyek sumur bor diharapkan memberikan manfaat ganda bagi keamanan dan kesejahteraan warga.
Pangdam XXII TB menegaskan bahwa ketersediaan air yang cukup merupakan faktor krusial dalam penanggulangan kebakaran hutan. Ia mengingatkan bahwa perubahan iklim dan peningkatan aktivitas pembakaran lahan menambah beban kerja TNI dalam menjaga hutan. Oleh karena itu, inisiatif seperti Sumur Bor Pulpis menjadi bagian integral dari strategi preventif Kodam, yang tidak hanya mengandalkan respons cepat, tetapi juga memperkuat kesiapan logistik sejak dini.
Selain inspeksi lapangan, tim teknis melakukan pengukuran kualitas air, termasuk tingkat keasaman (pH), kandungan mineral, dan potensi kontaminasi. Hasil sementara menunjukkan bahwa air sumur berada dalam standar aman untuk keperluan pemadam kebakaran, namun masih diperlukan pengolahan tambahan bila akan dipakai untuk konsumsi manusia. Rencana selanjutnya mencakup pemasangan sistem filtrasi dan penambahan cadangan energi listrik melalui panel surya, sehingga sumur dapat beroperasi secara mandiri bahkan pada malam hari.
Dalam sambutan resmi, Pangdam Mayjen TNI Zainul Arifin menekankan komitmen Kodam XXII/TB untuk terus mendukung percepatan pembangunan infrastruktur penanggulangan kebakaran di seluruh Kalimantan Tengah. Ia menambahkan bahwa sumur bor di Pulpis merupakan contoh konkret sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengatasi tantangan lingkungan. “Kita harus memastikan bahwa setiap titik strategis memiliki akses air yang cukup, sehingga ketika kebakaran terjadi, respons kita tidak terhambat,” ujarnya.
Ke depan, Kodam berencana memperluas jaringan sumur bor di wilayah lain yang rawan kebakaran, serta meningkatkan kapasitas penyimpanan air melalui pembangunan waduk kecil. Upaya ini selaras dengan program nasional penanggulangan kebakaran hutan yang menekankan pada pencegahan, deteksi dini, dan respons cepat. Diharapkan, dengan dukungan infrastruktur air yang memadai, waktu respons pemadam dapat dipersingkat secara signifikan, mengurangi luas lahan yang terbakar, serta melindungi keanekaragaman hayati Kalimantan.
Peninjauan ini sekaligus menjadi momentum bagi masyarakat setempat untuk lebih sadar akan pentingnya konservasi sumber daya air. Pemerintah desa Hanjak Maju berencana mengadakan pelatihan bagi warga tentang pemeliharaan sumur bor, serta mengintegrasikan program edukasi kebakaran hutan dalam kurikulum sekolah. Dengan partisipasi aktif semua pihak, diharapkan Sumur Bor Pulpis tidak hanya menjadi fasilitas teknis, tetapi juga simbol kolaborasi lintas sektoral dalam menjaga kelestarian hutan dan kesejahteraan penduduk.








