Di Hadapan Ribuan Akademisi, Prabowo Ingin Rektor Jadi Mitra Strategis Pemerintah
JAKARTA, Ule.co.id – Prabowo ingin rektor jadi mitra strategis pemerintah dalam merumuskan berbagai kebijakan untuk mendorong kemajuan Indonesia. Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya masukan dari kalangan akademisi agar pemerintah mampu menghadapi berbagai tantangan nasional maupun global secara lebih tepat.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat menutup Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Jakarta, Minggu. Dalam kesempatan itu, Prabowo ingin rektor jadi mitra strategis pemerintah melalui pertemuan yang lebih rutin bersama para profesor, peneliti, dan ilmuwan.
“Menurut saya, kalau empat kali bertemu para rektor itu bagi saya belum apa-apa. Kalau perlu tiap bulan kita bertemu,” kata Prabowo.
Ingin Pertemuan Lebih Rutin dengan Rektor
Presiden menilai perkembangan teknologi membuat hubungan antarnegara semakin erat sehingga berbagai konflik di belahan dunia lain dapat berdampak langsung terhadap Indonesia.
Karena itu, pemerintah membutuhkan pandangan dari kalangan akademisi dalam menyusun kebijakan yang mampu menjawab tantangan zaman.
Prabowo mengatakan dirinya sebagai kepala negara perlu berdiskusi dengan banyak orang yang memiliki keahlian dan pengalaman di berbagai bidang.
Menurutnya, gagasan dari rektor, profesor, peneliti, hingga ilmuwan akan menjadi masukan penting dalam proses pengambilan keputusan pemerintah.
Terima Berbagai Usulan dari Akademisi
Dalam forum tersebut, Presiden menerima sejumlah usulan dari para rektor, dosen, peneliti, ilmuwan, serta perwakilan perguruan tinggi.
Beberapa usulan yang disampaikan meliputi pemberian beasiswa program doktor bagi dosen di perguruan tinggi negeri maupun swasta, peningkatan alokasi dana badan usaha milik negara (BUMN) untuk riset dan inovasi, serta penguatan kerja sama antara perguruan tinggi di Indonesia dengan institusi pendidikan luar negeri.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Prabowo memastikan pemerintah akan segera melakukan tindak lanjut.
“Saya segera tindak lanjuti. Karena saya berkeyakinan bahwa kesulitan itu harus dihadapi dan kita harus berani menghadapi kesulitan, berani mengakui kesulitan, dan bekerja keras mencari solusi terhadap kesulitan,” ujarnya.
Masukan Masyarakat Juga Jadi Perhatian
Selain mendengarkan pandangan dari kalangan akademisi, Presiden juga menegaskan bahwa pemerintah tetap terbuka terhadap berbagai aspirasi masyarakat.
Prabowo bahkan berkelakar bahwa bukan hanya usulan para profesor yang akan diperhatikan, tetapi juga masukan dari masyarakat, termasuk anak-anak desa yang menyampaikan pendapat melalui media sosial.
Menurutnya, setiap gagasan yang bertujuan membangun Indonesia layak dipertimbangkan sebagai bagian dari proses penyusunan kebijakan.
Sarasehan Dihadiri Ribuan Akademisi
Sarasehan Kebangsaan KSTI berlangsung pada 26–28 Juni 2026 dengan mengusung tema “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia.”
Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai simposium dan diskusi panel yang membahas isu strategis, seperti pertanian, energi, ekonomi dan keuangan, ketahanan pangan, kelautan dan perikanan, hilirisasi, hingga pengembangan industri nasional.
Forum ini diikuti sekitar 2.600 rektor, dosen, peneliti, ilmuwan, dan perwakilan perguruan tinggi, serta melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Melalui forum tersebut, Prabowo ingin rektor jadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan dunia akademik. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghasilkan kebijakan yang berbasis riset, mempercepat inovasi nasional, serta mendukung terwujudnya pembangunan Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing.

